LANGGIKIMA — Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Sulawesi Tenggara (PW NW Sultra) menggelar Rapat Triwulan Ke-2 bersama Pengurus Daerah NW, badan otonom, lembaga, pimpinan pondok pesantren NW, serta mutakharrijin MDQH NW se-Sulawesi Tenggara di Langgikima, Jumat (16/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan nilai perjuangan dan kaderisasi Nahdlatul Wathan di Sulawesi Tenggara.
Rapat dibuka oleh Sekretaris PW NW Sultra, Al-Ustadz Taufal Bakri, QH., S.Sos.I., diawali dengan pembacaan Shalawat Nahdlatain, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Nahdlatul Wathan.
Dalam sambutannya, Pembina PW NW Sultra, Kiai Jumirah, QH., Sos.I., menyampaikan pesan penuh haru mengenai perjuangan Nahdlatul Wathan yang senantiasa mendapat keberkahan dan bimbingan spiritual dari pendirinya, Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Ia mengisahkan salah satu karamah Maulana Syaikh yang pernah disampaikan pada tahun 1990 tentang akan hadirnya pondok pesantren “di bawah jalan” di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, pesan tersebut kini terbukti pada keberadaan Pondok Pesantren Majma’ul Muhajirin NW Rahamendaa yang secara posisi berada lebih rendah dari jalan raya.
“Itu menjadi bukti karamah dan kekasyafan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang diberikan penglihatan tentang kejadian masa depan,” ujarnya di hadapan peserta rapat.
Kiai Jumirah juga mengingatkan seluruh tenaga pendidik dan pengurus pondok pesantren agar tidak berkecil hati dengan jumlah murid yang sedikit. Ia menekankan pentingnya keikhlasan dalam membimbing dan mengajar sebagai bagian dari perjuangan dakwah dan pendidikan.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNW, Al-Ustadz Jamhuri Karim, QH., S.Sos.I., dalam arahannya menegaskan pentingnya menjaga adab dan penghormatan kepada para senior dalam organisasi.
“Senantiasalah menghormati para senior, karena keberkahan itu bersama orang-orang tua dan para senior kita,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari Nahdlatul Wathan yang memiliki satu sumber perjuangan dan keteladanan, yakni Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Menurutnya, Maulana Syaikh merupakan sosok “paket komplit” yang memiliki keunggulan dalam berbagai bidang. Dari sisi keilmuan, Maulana Syaikh dikenal memiliki kecerdasan luar biasa hingga mendapat penghormatan khusus dari gurunya melalui penulisan ijazah secara tulisan tangan. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seorang Sulthanul Auliya atau Kutubul Aqtab, nasionalis sekaligus pahlawan bangsa, serta seorang seniman.
Dalam kesempatan tersebut, Al-Ustadz Jamhuri Karim turut menguraikan tiga warisan besar Maulana Syaikh kepada warga Nahdlatul Wathan, yakni Al-Jam’iyyah berupa organisasi Nahdlatul Wathan, Al-’Amaliyyah berupa tradisi dan amalan seperti pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan serta Shalawat Nahdlatain, dan Al-Jundiyyah berupa kaderisasi yang lahir dari dzurriyat maupun lembaga pendidikan NW.
Ia juga menekankan pentingnya loyalitas seluruh pengurus NW di semua tingkatan terhadap instruksi pimpinan organisasi, khususnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW).
Adapun pembahasan Rapat Triwulan II dipimpin langsung oleh Ketua PW NW Sulawesi Tenggara, Al-Ustadz Junaidi, QH., S.Sos.I., M.H., dengan fokus pada penguatan koordinasi organisasi, pengembangan lembaga pendidikan, serta konsolidasi gerakan dakwah Nahdlatul Wathan di wilayah Sulawesi Tenggara.